Pages - Menu

Thursday, September 5, 2013

Tale Of The Utensils

Tale Of The Utensils

                Nana’s father bought a mystical stone from egypt and place it in the kitchen. That stone could make everything around the kitchen could move and speaking like a human. In the night, when everyone’s asleep, the utensils open their eyes and walking around the house or have a chit chat.

                Everyone is happy, except the plate. She’s crying because she has some scratch in her body, her cry being louder and louder and disturbing another utensils. So, everyone gather around her to remind her not to awake Nana and his father.

                “My body! it has so many scratch! Mr.Knife is too sharp when he chop a beef on me,” said plate angrily.

                Mr.Knife show dislike when plate say that, he plead himself and said, “It’s not my fault, the knife grinder make me being sharper and sharper, so it can’t be helped. If you want to blame someone, blame him!”

                Then, the old knife grinder come to them slowly, he’s a respectfull elderly, “If i didn’t sharpen mr.knife, then the meat can’t be chopped, so you can’t blame me, because the meat is too thick.”
       
                The meat can hear that, but he can’t get out from the refigerator, so he said to refigerator to deliver his words, “well, meat said that, Nana loves a thick meat, she’s a meat lover. I don’t have any mistake.”

                Everyone is speechless, they can’t blame Nana because it’s impossible. Suddenly, Nana show up in front of them because she want to pee in the toilet, everyone is in panic because Nana sees them, but nana just smiling.

                “I’ve heard everything behind the wall, it’s not everyone fault either. I like a thick meat, and thick meat can only be chopped by Knife, but if the knife isn’t sharp enough, then it must be sharpened by Knife grinder.”

                “About the plate, i can polish you sometime, so don’t worry .”


                Everyone is relief, including  the plate, she’s smiling and the problem is finished. After that, Nana comes to them in almost every night and talk with them.

Tuesday, August 27, 2013

Cerpen : Cat of Death Omen

Cat of Death Omen
                Kucing itu memberi pertanda, bagaimana ia akan menandaimu dan menandai kematianmu, ia akan tersenyum setelah itu, tersenyum akan kegelapan yang akan menenggelamkanmu dalam jurang kehampaan, tanpa sehelai benang harapan yang akan menemanimu.
                “Gawat, nyawanya tidak tertolong lagi!” ujar sang suster. keluarganya hanya pasrah mendengar anaknya tidak akan selamat, anak itu memberi mereka semua harapan, mereka menangis tersedu-sedu memanggil namanya tapi ia tidak dapat tertolong.
                Kucing itu berjalan mendekati mayat dingin yang kaku itu, ia melangkahkan kakinya bagaikan melayang, ia melihat wajah yang tak bernyawa  yang pilu itu.
                ‘Kau masih bisa selamat nak,” kucing itu tidur diatas mayat itu dan menyinari kalung di lehernya. Ia masih bisa menyelamatkan anak ini.
                Anak itu terbangun dalam kegelapan malam, dimana-mana ia hanya melihat gelap, gelap, tidak ada sinar apapun. Ia berjalan dengan meraba-raba apapun yang ada disekitarnya.
                ‘Dimana aku?’ ujarnya dalam hati. Yang diingatnya hanyalah dia seperti melayang dan pandangannya menjadi gelap.
                Ia terus meraba-raba tempat disekitarnya dan kakinya tersandung sesuatu, ia tidak bisa melihat apa itu, ia hanya melangkahinya dan terus berjalan lurus untuk mencari jalan keluar.
                “Kau kebingungan nak?” sebuah suara terdengar disuatu tempat disekitarnya, ia ketakutan, sungguh ketakutan. Sepasang mata memperhatikannya dalam gelap, mata yang dapat melihat masa depan anak itu.
                “Siapa itu?” tanya anak itu ketakutan.
                Sosok itu mendekatinya dengan matanya yang terlihat jelas dalam gelap, ia berjalan dengan tenang mendekati anak itu. Ia berhenti berjalan dan duduk didepan anak itu, memandanginya, ia dapat merasakan apa yang akan terjadi pada anak itu nanti.
                “S-siapa kau?” tanya anak itu lagi, ia ketakutan melihat sorot sepasang mata menatapnya tajam.
                “Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku ingin kau menemukan jati dirimu, apakah kau pantas untuk itu,”ujar makhluk itu lagi.
                Secercah cahaya terlihat dari kejauhan, sebelum anak itu melangkahkan kakinya, sosok itu berkata; “Hati-hati dengan langkahmu nak, kau akan jatuh jika kau tergesa-gesa.”
                Anak itu tidak memperdulikan peringatan sosok mengerikan itu, ia benar-benar ingin menggapai cahaya itu, ia ingin secepatnya keluar dari tempat gelap ini.
                Ia berjalan lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat. Hingga akhirnya ia berlari karena ketidak sabarannya, sosok itu memperhatikan anak itu dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak bisa membantu anak itu disini.
                Sosok itu menyinari kalungnya lagi dan mengangkat anak itu dengan  kekuatan ajaibnya, anak itu terkejut dengan cahaya kuning yang mengelilinginya, “A-apa ini?” kata anak itu, cahaya itu membungkusnya menjadi kepompong dan sejenak, pengelihatannya menjadi putih.
                Anak itu membuka matanya dan melihat sebuah ruangan penuh cermin, ia berdiri disebuah ruangan yang memiliki banyak jalur. Ia terheran-heran karena tiba-tiba sudah berada ditempat lain.
                “Selamat datang di labirin pikiranmu nak,” seekor kucing tiba-tiba sudah ada didepannya dan membuatnya nyaris meloncat karena kaget. Ia tidak pernah melihat kucing bisa bicara. Ia memandangi kucing itu, kucing hitam dengan kalung berbandul sebuah permata berwarna jingga.
                “Kau sudah gagal karena ketidak sabaranmu, di ruang gelap tadi,” ujar kucing itu, anak itu masih bertanya-tanya apakah dia sedang bermimpi? Atau sedang menghayal?
                “Siapa kau?” tanya sang anak.
                “Kau tidak perlu tahu, yang penting sekarang adalah kau harus keluar dari labirin ini, dan jangan tersesat ataupun putus asa.”
                Anak itu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh kucing itu, baru saja dia ingin menanyakan sesuatu, kucing itu sudah lenyap secara tiba-tiba dan membuatnya terkejut lagi.
                Ia kebingungan, tetapi ia segera mengikuti kata kucing misterius itu, ia terus mengelilingi labirin itu, sayangnya labirin itu dilapisi dengan cermin dimana-mana, jadi dia tidak bisa menandai sebuah tempat atau membedakan satu tempat dengan lainnya.
                Anak itu mulai lelah, ia tetap tidak  bisa menemukan  jalan keluar, bahkan dia seperti berputar-putar tanpa henti di tempat itu, ia beristirahat sebentar dan bersender pada dinding labirin itu.
                ‘Apa ini, dimana aku? Apakah ini mimpi?’
                Anak itu melihat kearah cermin didepannya, ia terkejut melihat penampilannya sekarang ini, seorang anak kurus kering, dengan kulit pucat dan baju yang lusuh. Ia memegangi wajahnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
                Dia dulu adalah seorang anak yang gagah, bertubuh atletis dan kulit cokelat. Apa yang sebenarnya terjadi?!
                Anak itu melupakan penampilannya sekarang dan bergegas menyusurii labirin itu lagi, tetapi, lagi-lagi ia tidak dapat menemukan jalan keluar. Ia terjebak.
                Anak itu sudah benar-benar tidak dapat berjalan lagi karena kelelahan, ia sudah putus asa, kakinya yang hanya tersisa tulang kering itu tidak dapat menopang berat badannya.
                ‘Aku tidak akan keluar dari sini selamanya’
                Kucing yang melihatnya dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya, lagi-lagi ia harus menyinari kalungnya. Ia memejamkan mata dan membungkus anak itu dengan cahaya lagi.
                Anak itu membuka matanya dan melihat sebuah jungkat-jungkit raksasa berdiri didepannya, ia terpaku melihat jungkat-jungkit itu, ia merasa tidak asing dengan benda ini, warnanya, beberapa goresannya.
                “Selamat datang nak,” kucing yang sama seperti di labirin tadi menghampirinya.
                “Heyhey! Aku ingin bertanya. Dimana aku? Siapa kau?” tanya anak itu dengan penuh rasa ingin tahu.
                “Akan kuberi tahu jika kau bisa menyelesaikan tugas terakhirmu. Tugasmu hanyalah mengingat, hal jahat apa yang kau lakukan dengan jungkat-jungkit itu,” jelas kucing itu lagi, anak itu hanya mengangguk tanda mengerti.
                “Kau hanya ada waktu 10 menit,” ujar kucing itu, lalu ia menghilang begitu saja dan meninggalkannya sendirian.
                ‘Apa yang pernah kulakukan? Jika dilihat-lihat, ini seperti jungkat-jungkit ketika aku masih TK, tapi mana mungkin aku ingat masa kecilku di TK dulu,’ anak itu berpikir dan berpikir, ia tahu bahwa waktu terus berjalan dan mendesaknya untuk mengingat apa yang telah dilakukannya dulu.
                ‘Ayo, ingat..ingat..ingat!!’ anak itu semakin terdesak, dan akhirnya sebuah pengelihatan dari memorinya muncul.
                “Aku pernah menjahili temanku hingga kepalanya terbentur batu!!!” anak itu mengingatnya dengan jelas. Ia pernah bermain dengan teman sebayanya disana, saat bermain, dia memiliki ide untuk iseng, saat temannya terangkat, ia sengaja turun dari  jungkat-jungkit secepat mungkin dan membuat anak itu terjungkal hingga kepalanya terbentur batu dan dirawat di rumah sakit setelah itu.
                Sebuah cahaya terang bersinar dari atas dan menangkap pengelihatannya hingga ia menjadi buta untuk sesaat.
                Ia membuka matanya dan hanya melihat putih dimana-mana, sepertinya ia berada disebuah tempat tanpa apapun. Kucing itu berjalan mendekatinya, tetapi kali ini dia berjalan dengan tenang, tidak dengan gelisah seperti sebelumnya.
                “Aku adalah kucing penanda kematian, aku bisa melihat kematian orang dan aku yang akan membawanya ke gerbang kematian,” kucing itu terdiam sejenak lalu berkata; “Tetapi aku juga dapat menghidupkan orang lagi dengan cara membuatnya sadar dengan dosanya, kau sudah berhasil dikesempatan terakhir, jadi kau akan hidup kembali.”
                “Tunggu dulu, kenapa kau ingin aku hidup?” tanya anak itu.
                “Karena dua hal, pertama orang tuamu benar-benar bersedih. kedua, kau belum meminta maaf pada orang yang sudah kau celakai berbelas-belas tahun yang lalu dan kaulah yang membuatnya menderita.”
                Anak itu terhenyak, ia baru sadar bahwa tindakannya memang tidak berperikemanusiaan, mungkin saja dia memiliki masalah dengan otaknya setelah kelakuannya.
                “Tebuslah kesalahanmu nak, jika pada saatnya nanti, aku akan menjemputmu lagi dengan senang hati,” kucing itu sekali lagi menyinari kalungnya dan membuat tempat anak itu berpijak membentuk lingkaran yang membawanya terbang ke atas, terus dan terus hingga pada saatnya semua berwarna gelap.

                Mata itu terbuka.

Saturday, August 17, 2013

Tentang Blog ini

Blog ini akan menampilkan hasil karya dari Vega 'Bef" Bhenazi AKA Twoface pencil
aku akan menampilkan karya-karya sastraku dari Novel , Puisi , ataupun Cerpen
kritik dan saran selalu diterima :)