Cat of Death Omen
Kucing
itu memberi pertanda, bagaimana ia akan menandaimu dan menandai kematianmu, ia
akan tersenyum setelah itu, tersenyum akan kegelapan yang akan menenggelamkanmu
dalam jurang kehampaan, tanpa sehelai benang harapan yang akan menemanimu.
“Gawat,
nyawanya tidak tertolong lagi!” ujar sang suster. keluarganya hanya pasrah
mendengar anaknya tidak akan selamat, anak itu memberi mereka semua harapan,
mereka menangis tersedu-sedu memanggil namanya tapi ia tidak dapat tertolong.
Kucing
itu berjalan mendekati mayat dingin yang kaku itu, ia melangkahkan kakinya
bagaikan melayang, ia melihat wajah yang tak bernyawa yang pilu itu.
‘Kau
masih bisa selamat nak,” kucing itu tidur diatas mayat itu dan menyinari kalung
di lehernya. Ia masih bisa menyelamatkan anak ini.
Anak
itu terbangun dalam kegelapan malam, dimana-mana ia hanya melihat gelap, gelap,
tidak ada sinar apapun. Ia berjalan dengan meraba-raba apapun yang ada
disekitarnya.
‘Dimana
aku?’ ujarnya dalam hati. Yang diingatnya hanyalah dia seperti melayang dan
pandangannya menjadi gelap.
Ia
terus meraba-raba tempat disekitarnya dan kakinya tersandung sesuatu, ia tidak
bisa melihat apa itu, ia hanya melangkahinya dan terus berjalan lurus untuk
mencari jalan keluar.
“Kau
kebingungan nak?” sebuah suara terdengar disuatu tempat disekitarnya, ia
ketakutan, sungguh ketakutan. Sepasang mata memperhatikannya dalam gelap, mata
yang dapat melihat masa depan anak itu.
“Siapa
itu?” tanya anak itu ketakutan.
Sosok
itu mendekatinya dengan matanya yang terlihat jelas dalam gelap, ia berjalan
dengan tenang mendekati anak itu. Ia berhenti berjalan dan duduk didepan anak
itu, memandanginya, ia dapat merasakan apa yang akan terjadi pada anak itu
nanti.
“S-siapa
kau?” tanya anak itu lagi, ia ketakutan melihat sorot sepasang mata menatapnya
tajam.
“Kau
tidak perlu tahu siapa aku, aku ingin kau menemukan jati dirimu, apakah kau
pantas untuk itu,”ujar makhluk itu lagi.
Secercah
cahaya terlihat dari kejauhan, sebelum anak itu melangkahkan kakinya, sosok itu
berkata; “Hati-hati dengan langkahmu nak, kau akan jatuh jika kau
tergesa-gesa.”
Anak
itu tidak memperdulikan peringatan sosok mengerikan itu, ia benar-benar ingin
menggapai cahaya itu, ia ingin secepatnya keluar dari tempat gelap ini.
Ia
berjalan lebih cepat, lebih cepat, lebih cepat. Hingga akhirnya ia berlari
karena ketidak sabarannya, sosok itu memperhatikan anak itu dan hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak bisa membantu anak itu disini.
Sosok
itu menyinari kalungnya lagi dan mengangkat anak itu dengan kekuatan ajaibnya, anak itu terkejut dengan
cahaya kuning yang mengelilinginya, “A-apa ini?” kata anak itu, cahaya itu
membungkusnya menjadi kepompong dan sejenak, pengelihatannya menjadi putih.
Anak
itu membuka matanya dan melihat sebuah ruangan penuh cermin, ia berdiri
disebuah ruangan yang memiliki banyak jalur. Ia terheran-heran karena tiba-tiba
sudah berada ditempat lain.
“Selamat
datang di labirin pikiranmu nak,” seekor kucing tiba-tiba sudah ada didepannya
dan membuatnya nyaris meloncat karena kaget. Ia tidak pernah melihat kucing
bisa bicara. Ia memandangi kucing itu, kucing hitam dengan kalung berbandul
sebuah permata berwarna jingga.
“Kau
sudah gagal karena ketidak sabaranmu, di ruang gelap tadi,” ujar kucing itu,
anak itu masih bertanya-tanya apakah dia sedang bermimpi? Atau sedang
menghayal?
“Siapa
kau?” tanya sang anak.
“Kau tidak perlu tahu, yang
penting sekarang adalah kau harus keluar dari labirin ini, dan jangan tersesat
ataupun putus asa.”
Anak itu tidak mengerti apa yang
dikatakan oleh kucing itu, baru saja dia ingin menanyakan sesuatu, kucing itu
sudah lenyap secara tiba-tiba dan membuatnya terkejut lagi.
Ia kebingungan, tetapi ia segera
mengikuti kata kucing misterius itu, ia terus mengelilingi labirin itu, sayangnya
labirin itu dilapisi dengan cermin dimana-mana, jadi dia tidak bisa menandai
sebuah tempat atau membedakan satu tempat dengan lainnya.
Anak
itu mulai lelah, ia tetap tidak bisa
menemukan jalan keluar, bahkan dia
seperti berputar-putar tanpa henti di tempat itu, ia beristirahat sebentar dan
bersender pada dinding labirin itu.
‘Apa ini, dimana aku? Apakah ini mimpi?’
Anak
itu melihat kearah cermin didepannya, ia terkejut melihat penampilannya
sekarang ini, seorang anak kurus kering, dengan kulit pucat dan baju yang
lusuh. Ia memegangi wajahnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
sekarang.
Dia
dulu adalah seorang anak yang gagah, bertubuh atletis dan kulit cokelat. Apa
yang sebenarnya terjadi?!
Anak
itu melupakan penampilannya sekarang dan bergegas menyusurii labirin itu lagi,
tetapi, lagi-lagi ia tidak dapat menemukan jalan keluar. Ia terjebak.
Anak
itu sudah benar-benar tidak dapat berjalan lagi karena kelelahan, ia sudah
putus asa, kakinya yang hanya tersisa tulang kering itu tidak dapat menopang
berat badannya.
‘Aku tidak akan keluar dari sini selamanya’
Kucing
yang melihatnya dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya, lagi-lagi ia harus
menyinari kalungnya. Ia memejamkan mata dan membungkus anak itu dengan cahaya
lagi.
Anak
itu membuka matanya dan melihat sebuah jungkat-jungkit raksasa berdiri
didepannya, ia terpaku melihat jungkat-jungkit itu, ia merasa tidak asing dengan
benda ini, warnanya, beberapa goresannya.
“Selamat
datang nak,” kucing yang sama seperti di labirin tadi menghampirinya.
“Heyhey!
Aku ingin bertanya. Dimana aku? Siapa kau?” tanya anak itu dengan penuh rasa
ingin tahu.
“Akan
kuberi tahu jika kau bisa menyelesaikan tugas terakhirmu. Tugasmu hanyalah
mengingat, hal jahat apa yang kau lakukan dengan jungkat-jungkit itu,” jelas
kucing itu lagi, anak itu hanya mengangguk tanda mengerti.
“Kau
hanya ada waktu 10 menit,” ujar kucing itu, lalu ia menghilang begitu saja dan
meninggalkannya sendirian.
‘Apa yang pernah kulakukan? Jika
dilihat-lihat, ini seperti jungkat-jungkit ketika aku masih TK, tapi mana
mungkin aku ingat masa kecilku di TK dulu,’ anak itu berpikir dan berpikir,
ia tahu bahwa waktu terus berjalan dan mendesaknya untuk mengingat apa yang
telah dilakukannya dulu.
‘Ayo, ingat..ingat..ingat!!’ anak itu
semakin terdesak, dan akhirnya sebuah pengelihatan dari memorinya muncul.
“Aku
pernah menjahili temanku hingga kepalanya terbentur batu!!!” anak itu
mengingatnya dengan jelas. Ia pernah bermain dengan teman sebayanya disana,
saat bermain, dia memiliki ide untuk iseng, saat temannya terangkat, ia sengaja
turun dari jungkat-jungkit secepat
mungkin dan membuat anak itu terjungkal hingga kepalanya terbentur batu dan
dirawat di rumah sakit setelah itu.
Sebuah
cahaya terang bersinar dari atas dan menangkap pengelihatannya hingga ia
menjadi buta untuk sesaat.
Ia
membuka matanya dan hanya melihat putih dimana-mana, sepertinya ia berada
disebuah tempat tanpa apapun. Kucing itu berjalan mendekatinya, tetapi kali ini
dia berjalan dengan tenang, tidak dengan gelisah seperti sebelumnya.
“Aku
adalah kucing penanda kematian, aku bisa melihat kematian orang dan aku yang
akan membawanya ke gerbang kematian,” kucing itu terdiam sejenak lalu berkata;
“Tetapi aku juga dapat menghidupkan orang lagi dengan cara membuatnya sadar
dengan dosanya, kau sudah berhasil dikesempatan terakhir, jadi kau akan hidup
kembali.”
“Tunggu
dulu, kenapa kau ingin aku hidup?” tanya anak itu.
“Karena
dua hal, pertama orang tuamu benar-benar bersedih. kedua, kau belum meminta
maaf pada orang yang sudah kau celakai berbelas-belas tahun yang lalu dan
kaulah yang membuatnya menderita.”
Anak
itu terhenyak, ia baru sadar bahwa tindakannya memang tidak berperikemanusiaan,
mungkin saja dia memiliki masalah dengan otaknya setelah kelakuannya.
“Tebuslah
kesalahanmu nak, jika pada saatnya nanti, aku akan menjemputmu lagi dengan
senang hati,” kucing itu sekali lagi menyinari kalungnya dan membuat tempat
anak itu berpijak membentuk lingkaran yang membawanya terbang ke atas, terus
dan terus hingga pada saatnya semua berwarna gelap.
Mata
itu terbuka.
No comments:
Post a Comment